Mengenal Lebih dekat AGH Abduh Pabbajah

  • Whatsapp

Sidrap, titikjurnal.com-Kiai Pabbaja lahir di Allakuang, Sidenreng Rappang atau lebih kenal kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan, pada 20 Muharram 1336 H atau 26 Oktober 1918.

Beliau lahir dari keluarga terpandang dan taat beragama. Ayahnya bernama Pabbaja bin Ambo Padde, seorang kepala wilayah di desa kelahirannya.

Berita Lainnya

Ibunya bernama Hj Latifah binti Kalando, putri seorang imam atau penghulu syarak di desa itu. Kiai Pabbaja adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara.

AGH Abduh Pabbaja mengenal pendidikan dasar di SR Rawa sampai kelas dua, kemudian melanjutkan di Madrasatul Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang yang dibimbing langsung AGH. Muh. As’ad. Beliau merupakan angkatan kedua bersama AGH. Muh Yunus Martan Asal Belawa, Wajo.

Konon, beliau pernah pulang kampung di Sidrap sehingga ketinggalan mempelajari ilmu Fanaidh (membuat syair Arab), lalu saat kembali ke Sengkang beliau fokus mendalami ilmu tersebut.

Karena ilmu Fanaidh yang sebagian santri dianggap berat, justru beliau berujar bahwa ilmu itu sebagai “aggurung makkunrai” (pelajaran perempuan) artinya mudah sekali mempelajarinya.

AGH Abduh Pabbajah memiliki lima anak dari istrinya Hj. Khadijah. Sebelumnya beliau menikah dengan Saribanong dari Pare-pare dan Hj. Kaliman dari Allekuang Sidrap tapi keduanya tidak memiliki keturunan. Begitu juga dengan Hj. Andi Norma istri keempat asal Pare-pare tidak memiliki keturunan.

Pengabdian AGH Abduh Pabbaja dimulai dengan membuka cabang MAI di Allekkuang untuk tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Kemudian tahun 1949, beliau diangkat sebagai kali sidenreng.

Selain aktif di dunia Pendidikan, AGH Abduh Pabbaja tercatat sebagai aktivis sejumlah organisasi. Tahun 1945 bergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI) untuk menyongsong kemerdekaan RI.

Beliau bahkan tercatat sebagai orang pertama yang mengibarkan bendera merah Putih di Allekkuang.

Tahun 1957 menjadi deklarator Badan Aksi Rakyat Perjuangan Semesta (Bara Permesta) yang mangambil lokasi deklarasi di Gedung DPRD Kota Pare-pare.

Dalam kancah politik, beliau bergabung di Partai Serikat Islam (PSI) hingga partai tersebut difusi Rezim Orde Baru menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan tetap konsisten, tercatat pengurus PPP hingga wafatnya pada tahun 2009.

Di antara ilmu keislaman yang dipelajarinya, Kiai Pabbaja lebih menyukai Ilmu Tafsir. Tak heran jika beliau dikenal sebagai ulama ahli tafsir yang fasih dan lancar berbahasa Arab.

‘’Penafsiran Alquran hendaknya disesuaikan dengan ilmu pengetahun modern tanpa meninggalkan prinsip yang harus digunakan dalam menafsirkan Alquran,’’ ujar Kiai Pabbaja.

Dalam menerjemahkan Alquran, Kiai Pabbaja, sangat tak setuju bila kitab suci umat Islam itu diartikan secara sepotong-sepotong. Menurutnya, Alquran harus diartikan secara lengkap agar tak ada kekeliruan terhadap maknanya. Begitulah pendapatnya tentang penafsiran dan penerjemahan

Kiai Pabbaja adalah ulama yang produktif. Sederet kitab telah ditulisnya. Hebatnya lagi, semua kitab-kitabnya ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Bugis. Dalam bidang ilmu tafsir, beliau menulis sejumlah kitab, seperti; Tafsir Surah Al-Fatihah, Tafsir Surah An-Nas, Tafsir Surah Al-Falaq, Tafsir Surah Al-Ikhlas, Tafsir Surah Al-Lahab, Tafsir Surah Muhammad, dan Tafsir Surah Al-Ahqaf.

Dalam bidang akhlak, Kiai Pabbaja menulis kitab, Al-Mau’izah Al-Hasanah dalam dua jilid, serta Masa Pertumbuhan Gadis Remaja Putra dan Putri. Dalam bidang ibadah, beliau menulis Az-Zikru Inda al-Asyiyyi wa Al-Akbar. Ia juga memiliki banyak kaset yang berisi rekaman dakwahnya.

Untuk itulah, dia mendirikan radio, Radio Mesra Parepare, untuk memperluas jangkauan dakwahnya.

Gurutta Pabbajah, meninggal dunia pada usia 94 tahun menurut perhitungan Hijriyah, atau 90 tahun pada penanggalan Masehi. Beliau lahir di Allakuang, pada 20 Muharram 1336 H, atau 26 Oktober 1918.

Gurutta AGH. Abduh Pabbaja wafat tanggal 20 Agustus 2009.

Berita Terkait